No Reply (2/?)

No Reply (2/?)

Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, lainnya
Genre : Romance, GirlxGirls
Alur : Cerita ini memiliki alur maju-mundur. Tolong perhatikan tanggal dan tahunnya.

 

This story is mine. The genre is Yuri. Yes maybe you some straight peoples doesn’t like it, but we talk about Taeyeon and Tiffany here. You’ll be lovin’ it.

 

 

Happy Reading

 

 

09 Maret 2017
Tiffany POV

To : My Mate
“Saengil cukhae, Taeyeon-ah!!!”

To : My Mate
“Kim, umurmu sekarang sudah 28 tahun. Kau sudah tua sekarang hahahha ”

To : My Mate
“Aku tahu kita lahir ditahun yang sama, tapi kau yang pertama tua dibanding aku 😁”

To : My Mate
“I wish nothing, but the best for you baby 😊”

To : My Mate
“And I love you. I love you so much, baby girl”

 

 

09 Maret 2015
Normal POV
Akhirnya Tiffany mendaratkan kakinya di New York. Senyum terus terukir diwajah cantiknya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Taeyeon. Menjalin hubungan jarak jauh memang membuat setiap pertemuan yang mereka sepakati menjadi moment yang sangat mereka nantikan. Jika keduanya memiliki waktu luang, Taeyeon kadang yang datang ke Korea, kadang juga Tiffany yang menemui Taeyeon di New York.

Dan pertemuan kali ini sangat spesial. Hari ini adalah hari ulang tahun Taeyeon dan mereka sepakat untuk merayakannya di New York. Ulang tahun kali ini akan menjadi perayaan kedua mereka sebagai seorang kekasih setelah 18 Februari lalu Taeyeon datang ke Korea untuk merayakan hari valentine yang sudah lewat dari tanggal yang semestinya itu dengan Tiffany. Hanya pertemuan singkat sehari semalam, bermain wahana bermain dilanjut dengan makan malam disebuah restaurant. Singkat namun mereka senang bisa bertemu. Senang bisa bertemu walaupun dikejar waktu yang memburu. Hari ini keduanya beruntung karena memiliki waktu luang yang cukup lama, jadi Tiffany bisa menginap beberapa hari di New York.

Sungguh hari yang sangat membahagiakan bagi dua insan yang selalu kasmaran. Sungguh hari yang ditunggu bagi dua insan yang bernasib sial harus selalu menahan rasa rindu. Hari ini mereka akan bertemu, berpeluk rindu, atau bahkan sampai bercumbu. Melepas hasrat ingin bertemu pujaan hati yang selalu mengusai hati dan hari yang mereka jalani.

To : My Mate
“Baby, where are you?? Aku sedang menuju pintu keluar”

Mata Tiffanypun menyisir setiap orang-orang yang berada di bandara. Menemukan orang Korea ditengah-tengah bule Amerika tidaklah sulit. Namun semuanya terasa lebih sulit saat badan bule-bule itu terlalu tinggi dan Taeyeon terlanjur pendek.

No reply from Taeyeon.

Tiffanypun mencoba menghubungi Taeyeon, tapi tidak diangkat. Tiffany yang sudah sangat rindu pada Taeyeon menjadi sangat tidak sabaran.

To : My Mate
“Ya!! Kau dimana? Apa kau tidak merindukanku? Aku sudah didekat pintu”

To : My Mate
“Jangan bilang kau sedang rapat. Kau sudah berjanji untuk menjemputku”

To : My Mate
“Atau jangan-jangan kau lupa untuk menjemputku”

To : My Mate
“Kim Taeyeon 😒”

To : My Mate
“YAAAAA!! Kau membuatku kesaaaaal!!!!

Sementara diitengah-tengah kemacetan menuju bandara, Taeyeon merutuki dirinya sendiri karena ia tertidur dan telat untuk menjemput Tiffany.

Taeyeon :”Gosh!! Tinggal 100 meter kenapa harus macet??”

Iapun lalu menyadari bahwa handphonenya yang ada dikursi penumpang terus-terusan berkedip.

Taeyeon : “Omo!! Hpku disilent”

Iapun langsung pucat pasi begitu membaca pesan-pesan dan panggilan tak terjawab dari Tiffany. Ia langsung menelpon Tiffany, tapi tidak diangkat.

To : My Soul
“Babyyyyyyyy, 70 meter lagi aku sampai dibandara. Tunggu aku babyyyy!!!”

No reply.

To : My Soul
“Mianhae.. Mianhae.. Mianhae.. Jangan marah, sayang”

To : My Soul
“Aku salah. Aku minta maaf. Tapi tolong marahnya tunda dulu. Aku kangen kamu dan hal pertama yang ingin aku lihat adalah senyum indahmu. Aku ingin kita berpelukan dulu, melepas rindu, baru setelahnya kau boleh lampiaskan kekesalanmu. Aku sudah sampai diparkiran, tunggu aku sayang.”

Rasa rindu yang menggebu telah mengalahkan amarah. Cinta membara telah berhasil merajai hati yang penuh marah. Dua sejoli yang dilanda kasmaran itu akhirnya bertemu dan akhirnya mendaparkan apa yang mereka mau. Taeyeon mendapatkan senyuman dan pelukan yang ia rindukan. Sedangkan Tiffany lebih sederhana, tidak juga aslinya. Karena ia tidak mau senyuman dan pelukan, tapi ia mendapatkan Taeyeon seutuhnya yang ia sayang. Bukan hanya suara, bukan juga gambar digital, bukan pula hanya sekedar ketikan pesan. Dia mendapatkan Taeyeon-nya.

 

*Pada malam harinya di ruang tengah apartemen Taeyeon*
Taeyeon dan Tiffany merayakan ulang tahun Taeyeon secara sederhana. Hanya cake, makanan berat, serta sebotol wine yang mereka punya. Hanya duduk beralaskan karpet dan meja kaca yang tidak perlu repot-repot mereka tata. Mereka sama sekali tidak tertarik merayakannya diluar bersama teman atau kerabat. Tidak pula tertarik merayakannya direstaurant mewah, moment mereka akan terganggu oleh pelayanan dengan senyum palsunya yang selalu bolak balik menanyakan adakah makanan lain yang ingin dipesan seperti perayaan hari valentine mereka Februari lalu. Biar kebahagiaan ini hanya mereka yang rasakan, orang lain jangan. Egois sangat.

Tiffany : “Make a wish, baby”

Dan Taeyeon pun melakukannya. Ia berdoa pada siapapun dan apapun yang mau mendengar dan mampu mengabulkan. Tanpa ia sadari bulir air matanya terjatuh. Tiffany yang berada disampingnya sedikit terkejut melihat air mata Taeyeon. Mungkin kekasihnya terlalu khusyuk dalam berdoa, pikirnya.
Taeyeon membuka matanya. Tatapan pertamanya tertuju pada barisan lilin-lilin yang siap untuk dipadamkan. Lalu ia memandang Tiffany-nya penuh sayang. Mereka berdua saling pandang, saling bertatap sayang. Mereka lalu tersenyum menyiratkan kebahagiaan yang mereka rindukan.

Taeyeonpun meniup lilin di cake itu dengan semangat. Tiffany dengan cerianya bertepuk tangan.

Tiffany :”Kau menangis?”

Taeyeon : “Jinjjayo? Aku tidak menyadarinya. Mungkin aku terlalu bahagia karena bisa merayakan hari ulang tahunku denganmu. Aku juga bahagia dihari ini kita bisa bertemu. Aku merindukanmu.”

Tiffany tersenyum mendengarnya. Dikecupnya bibir Taeyeon sekilas..

Tiffany : “Happy birthday, baby”

Taeyeon :”Terima kasih, sayang. Terima kasih atas kehadiranmu disini. Terima kasih pula atas kehadiranmu dihidupku. Aku sangat bahagia dan semoga kamu merasakan hal yang sama”

Tiffany :”Jangan mengucapkan terima kasih karena kita memang saling memberi kasih. Jangan pula berbicara mengenai apa yang aku rasa karena setiap rasa yang aku punya adalah kamu pemiliknya.”

Mereka kembali tersenyum. Terpancar jelas rasa rindu dan cinta serta kebahagian yang kini tengah mereka rasakan.

Tiffany :”Hei, katakan padaku apa doamu, Kim?”, pinta Tiffany dengan puppy eyes andalannya.

Taeyeon : “Eii, itu rahasia”, ucap Taeyeon dengan senyumannya yang lebar.

Tiffany :”Oh ya sudah”, ucap Tiffany datar seraya mengambil handphone.

Mencari-cari menu aplikasi yang akan ia tekan.

Taeyeon :”Apa yang kau lakukan?

Tiffany :”Karena kekasihku tidak mau membagi doanya kepadaku, aku merasa bahwa ia mulai menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak suka itu. Jadi aku akan mencari tiket pesawat untuk pulang malam ini juga ke Korea.. Oh aku menemukannya!! Hmm 3 jam dari sekarang? Ok aku aka–“,

Tiffany tidak melanjutkan kegiatannya karena Taeyeon merampas handphone yang ia pegang.

Taeyeon :”Mwoya? Kenapa seperti itu? Baru saja 3 menit 20 detik aku tiup lilin, kau sudah mau pulang. Ulang tahun macan apa ini?”

Tiffany memasang muka datarnya, hanya segurat tatapan iseng dari matanya tidak luput dari penglihatan Taeyeon. Dan Taeyeonpun menyerah..

Taeyeon :”Aku tadi berterima kasih pada Tuhan karena kehadiranmu, appa dan umma, serta orang-orang yang selalu ada disisiku. Aku juga berdoa agar mereka selalu bahagia, agar appa dan umma bahagia dan sehat selalu. Aku juga berdoa tentang kebahagianmu. Aku berdoa agar kau selalu sehat, kau selalu selamat, kau selalu bahagia, dan agar kau selalu kuat menghadapiku, kuat menghadapi masalah, kuat menghadapi rintangan, dan kuat menghadapi kehilangan.”, Taeyeon bercerita panjang lebar sambil tersenyum tenang.

Ia tidak menyadari bahwa sekarang giliran kekasihnya yang mulai menangis.

Tiffany :”Kau selalu bodoh, Taeyeon-ah. Ini ulang tahunmu. Apa kau lupa untuk berdoa tentang keinginmu? Kau terlalu banyak berdoa untuk orang lain. Terlalu banyak berdoa untukku”

Taeyeon :”Yang bisa aku lakukan untuk kalian adalah berdoa pada Tuhan. Dan mengenai hal yang aku inginkan, aku tidak perlu berdoa lagi karena apa yang aku mau, apa yang menjadi kekuatanku sekarang sedang berada tepat dihadapanku. Sedang ku tatap hadiah indah pemberian Tuhan.”

Mata mereka berkaca-kaca namun bibir mereka kembali tersenyum. Yang selanjutnya mereka lakukan tentu saja bercumbu. Kalian sudah tahu rundown aktivitas yang biasa dilakukan oleh dua insan kasmaran untuk melepaskan kerinduan. Malam ini mereka yang punya, cinta yang mereka rasa telah dibuktikan secara nyata.

 

 

*Back to 09 Maret 2017*
To : My Mate
“Tae, ingat 2 tahun lalu saat kau telat menjemputku dibandara?”

To : My Mate
“Bahkan sampai sekarang aku masih merasa kesal karena itu.”

To : My Mate
“Lalu saat kau pulang ke Korea untuk merayakan hari jadi kita, kau juga masih tetap membuat kesal dibandara”

To : My Mate
“Aku masih merasa kesal, tapi aku tetap saja mencintaimu. Ottokhae? 😍”

 

 

31 Juli 2015
Taeyeon POV
To : My Soul
“Hey, jangan marah. Aku sedang ditaksi menuju apartemenmu. Kau sudah sampai diapartemen?”

To : My Soul
“Hey”

To : My Soul
“Jangan diamkan aku seperti aku adalah seorang suami yang tertangkap basah selingkuh didepan istrinya.”

To : My Soul
“Itu tidak sengaja, Fany-ah. Kau tahu itu 😣”

To : My Soul
“Aku senang kau cemburu, tapi aku tidak senang kau cemberut.”

To : My Soul
“Angkat telponku atau balaslah pesan-pesanku. I miss you.”

No reply.

Aku hanya mendesah lemah. Lagi-lagi aku membuat Tiffany kesal di bandara. Selalu saja dibandara.

 

*Flashback dibandara*
To : My Soul
“Baby, aku sudah landing. Tunggu aku yah”

Ah, akhirnya aku sampai di Bandara Icheon. Hari ini spesial. Saaaangat spesial. 31 Juli 2015, first anniversary hubunganku dengan Tiffany. Sudah satu tahun aku dan Tiffany menjalani hubungan jarak jauh ini. Sejauh ini berjalan lancar. Tidak, aku berbohong. Kadang kami bertengkar lewat telpon. Apalagi jika soal waktu. Perbedaan waktub yang mencolok diantara kami sebenarnya sangat melelahkan, tapi bagiku itu tantangan. Menghadapi sikap Tiffany yang pencemburu dan kadang tiidak sabaran juga merupakan tantangan.

Tapi kami berusaha, kami sama-sama berjuang. Biar waktu tak jadi halangan, biar jarak bukan sesuatu untuk dipermasalahkan. Aku selalu mengingatkan Tjffany jika aku mencintai, jika aku percaya padanya, dan diapun mengatakan hal yang sama. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Aku akan buat dia bahagia, aku selalu bersamanya meski tidak bisa disampingnya, aku akan memanfaatkan setiap waktu yang ku punya untuk selalu membuatnya tersenyum bahagia.

Seperti hari ini misalnya. Hanya rencana sederhana yang pemainnya hanya dilakoni kami berdua. Tiffany akan menjemputku dibandara, lalu aku akan beristirahat dan mengobrol diapartemen Tiffany, lalu malamnya kami akan memasak bersama untuk merayakan hari jadi kami. Sambil merayakan hari jadi kami, kami akan menunggu sampai jam 12 malam tiba untuk merayakan ulang tahun Tiffany. Ah senangnya.. Apapun kegiatan kami, akan kupastikan kami akan selalu bermesraan.

Ah tidak serasa langkah kakiku sudah mengantarkanku dipintu keluar terminal kedatangan internasional. Dimana Tiffanyku? Ah itu dia!! Dia membelakangiku, aku hapal betul itu punggungnya.

Taeyeon : “Baby, aku merindukanmu.”, ucapku sambil memeluk Tiffany dari belakang.

Aku eratkan pelukanku. Aku cium lehernya. Saat aku akan menciun pipinya, sekilas aku melihat ke arah depan dan aku melihat Tiffany sedang menahan emosinya.. Ehh.. apa? Tiffany didepanku? Lalu siapa yang ku peluk?

Yeoja :”Ya!!! Nugu-ya?? Berani-beraninya kau memeluk dan mencium leherku!! BYUNTAE!!”, teriak wanita itu, lalu dia menampar pipi kiriku.

Wanita itu pergi dan aku masih diam tak bergerak, masih terkejut akan kejadian barusan. Lalu aku sadar Tiffany yang asli sudah berada didepanku.

Tiffany : “Kim Taeyeon..”, ucapnya datar.

Sangat datar hingga membuat tubuhku terasa melebur sama datarnya dengan lantai bandara.

Taeyeon : “Fa..Fany-ah.. A.. Aku tidak mengenal wanita i.. itu.”, ucapku gugup.

Aku pikir Tiffany akan marah, tapi dia pada akhirnya tersenyum. Ah syukurlah. Akupun ikut tersenyum.

Tiffany : “Taeyeon-ah, kau naik taksi saja”, ucapnya santai lalu berlalu pergi.

Taeyeon : “Mwo?!”

Ingatkan aku untuk tidak mempercayai senyuman wanita terlebih dahulu.

*Flashback dibandara selesai*

Dan begitulah kejadiannya hingga aku harus naik taksi ke apartemen Tiffany. Sekarang aku sudah berada didepan pintu kamarnya. Aku ketuk, tak ada jawaban. Aku telpon, tak diangkat. Aku SMS, tak dibalas. Yah sudah aku masuk saja, toh aku tahu passwordnya. Setelah menutup pintu, aku memanggil Tiffany tapi dia tidak ada dirumah.

To : My Soul
“Kau dimana? Aku sudah diapartemen. Cepat pulang. Jangan buatku khawatir”

Aku ingin menunggu Tiffany, tapi aku lelah. Ku lirik jam di dinding, ternyata baru pukul 2 siang. Sebaiknya aku tunggu Tiffany pulang sambil tiduran disofa. Aku tidak perlu mencari tahu dia dimana, dimanapun dia, dia pasti akan pulang. Kembali padaku. Akupun menutup mataku lelah.

Sesaat kemudian aku mendengar bunyi ramai, bunyi berisik seperti plastik-plastik. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil membuka kedua mataku. Ku lirik jam di dinding lagi. Omo!! Sudah jam 6 petang. Okeh, tidurku bukan tidur yang sesaat ternyata. Lalu aku teringat Tiffany? Aku cek hpku, masih belum ada balasan. Saat aku sedang memikirkan Tiffany, suara ramai dari arah dapur mengalihkan perhatianku. Apakah itu Tiffany? Akupun berjalan ke arah dapur untuk memastikannya. Itu dia. Tiffany-ku. Dia sedang membelakangiku, aku kenal betul punggungnya. Oke, untuk kali ini aku benar-benar yakin itu punggung Tiffany, toh sekarang aku sedang berada diapartemennya hehehe.

Aku tatap punggung gadis cantikku. Bagaimana bisa seseorang bisa terlihat sempurna hanya dilihat dari belakang. Aku lalu mengingat bahwa satu tahun lalu aku hanya bisa menatap punggungnya dari jauh, sekarang punggung itu bahkan bisa kupeluk sesuka hatiku. Sudah satu tahun dan aku terus berdoa pada Tuhan agar aku bisa tetap bersama Tiffany di tahun-tahun berikutnya. Aku selalu meminta restu padaNya agar Dia sudi memperbanyak waktu yang kupunya hanya untuk bersamanya.

 

Normal POV
Taeyeon : “Oh Tuhan, aku benar-benar mencintai dia.”, ucap Taeyeon pelan namun masih biaa terdengar oleh Tiffany yang sedang sibuk merapikan bahan makanan untuk makan malam special mereka nanti.

Tak ingin berlama-lama kesal pada Taeyeon, iapun menghampiri Taeyeon yang sedang bersandar dipintu dapur. Tiffany tersenyum saat melihat wajah lugu Taeyeon ketika sedang melamum seperti itu.

Tiffany : “Taeyeon-ah.”, ucap Tiffany lembut.

Sadar dari lamunannya, Taeyeon tersenyum pada Tiffany dan langsung memeluk kekasihnya penuh kelembutan. Tiffany yang kaget akan pelukan tiba-tiba Taeyeon pun hanya bisa membalas pelukannya.

Taeyeon : “Kau sudah pulang? Aku mengkhawatirkanmu.”

Tiffany : “Aku masih marah soal kejadian bandara. Aku sebenarnya masih tidak ingin bertemu denganmu dulu. Lalu akhirnya aku pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan untuk makan malam nanti.”

Taeyeon memperdalam pelukannya.

Taeyeon : “Jangan bicara seperti itu. Jangan pernah bilang kalau kamu tidak ingin kita bertemu karena demi apapun tiada detik yang aku lewatkan tanpa mengingatmu. Aku tahu aku salah dan selalu aku yang membuat masalah, kamu boleh tampar mukaku atau pukul badanku, hanya saja jangan jauhi aku. Kita jarang bertemu, setiap saat aku merindukan kamu, jadi saat kita bisa sedekat ini tolong jangan musuhi aku dengan amarahmu.”

Taeyeon : “I love you, baby. I love you..”, lanjut Taeyeon.

Tiffany : “I love you too. Aku hanya kesal, aku tidak marah.”, ucap Tiffany mengembungkan pipinya.

Taeyeon melonggarkan pelukannya, tapi tidak melepaskan pelukan tersebut. Ia lalu menatap wajah Tiffany dan mencium bibirnya sekilas.

Taeyeon : “Maafkan aku yah.”

Tiffany : “Maafkan aku juga karena tadi menyuruhmu pulang naik taksi.”

Taeyeon tertawa mendengarnya. Kembali ia peluk Tiffany. Oh betapa kehangatan ini menjadi candu baginya. Harum rambut Tiffany pasti akan selalu diingatnya.

Tiffany : “Happy first anniversary, baby”

Taeyeon : “Happy first anniversary for us.”

Pelukan sepasang kekasih itu semakin mesra, semakin erat. Dibumbui oleh cumbu yang semakin lama semakin menggebu. Mereka melepas rindu, merasakan kehangatan kekasihnya masing-masing. Masak bersama untuk makan malam? Mereka bisa undur waktunya. Namun ada rindu, ada sayang, ada cinta yang harus mereka lampiaskan, harus mereka buktikan.

Sekarang juga.

Mereka tersenyum ditengah cumbu. Berpeluh demi melepas rindu.

Setelahnya mereka memutuskan untuk memasak untuk dinner. Masakan rumahan sederhana yang penting mereka memasak itu bersama.

Seraya menikmati santapan, kembali mereka bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya masing-masing. Semua hal yang tidak bisa mereka ceritakan lewat telpon menjadi bahan pembicaraan.

Dan tak terasa waktupun menunjukkan akan menunjukkan tengah malam. Ulang tahun Tiffany sebentar lagi akan tiba. Segera mereka isi meja diruang tengah dengan cake, wine, dan makanan kecil lainnya. Menu-menu favorite mereka saat sedang berdua.

Dan waktu pun menunjukkan pukul 12 malam tepat.

Taeyeon : “Happy bday, baby.”, Taeyeon memberikan ciuman yang lumayan panjang untuk kado pertamanya.

Tiffany pun dengan senang hati menerimanya.

Taeyeon : “Now, make a wish, baby.”

Tiffany : “Aku ingin kita semakin sukses, aku ingin kita selalu sehat dan bermanfaat bagi orang lain, aku ingin orang tua kita selalu sehat dan bangga pada kita.”, ucap Tiffany dengan lantang.

Taeyeon : “Hei, kau membocorkan doamu.”

Tiffany : “Karena aku tidak seperti kekasihku yang tidak mau menceritakan doanya padaku weeeee :p “, ucap Tiffany penuh aegyeo

Taeyeon : “Yaaaaa”

Tiffany : “Dan aku ingin, kita selalu bersama, Taeyeon-ah”, Tiffany melanjutkan doanya.

Taeyeon memeluk Tiffany dari samping. Diciumnya pucuk kepala Tiffany.

Taeyeon : “Itu juga doaku, sayang. Ah ini kadomu”

Tiffany menerima kadonya dengan bingung, tapi Taeyeon menyuruhnya untuk langsung membukanya.

Tiffany : “Tidak, Taeyeon. Kau bercanda kan? Ini tidak mungkin. Aku tidak–“, ucap Tiffany penuh keterkejutan. Taeyeon pun langsung memotong ucapannya.

Taeyeon : “Hey, aku yakin kau mampu”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

One thought on “No Reply (2/?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s