NO REPLY (1/?)

NO REPLY (1/?)

Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, lainnya
Genre : Romance, GirlxGirls
Alur : Cerita ini memiliki alur maju-mundur. Tolong perhatikan tanggal dan tahunnya.

This genre is Yuri. Yes maybe you some straight peoples doesn’t like it, but we talk about Taeyeon and Tiffany here. You’ll be lovin’ it.

Happy Reading

14 Februari 2017

Tiffany POV

Aku buka hpku. Tidak sabar rasanya mengirimkan pesan untuk kekasih tercintaku.

To : My Mate

Happy valentine, Taeyeon-ah”

To : My Mate

Ya Kim! Kau harus memakan semua coklat yang sudah aku belikan ini hahaha 😜”

To : My Mate

“Ah aku juga membelikan gummy bear kesukaanmu”

To : My Mate

“Semoga gigimu tidak ompong 😝”

To : My Mate

 “I love you

 14 Februari 2015

Tiffany POV

Aku sedang membaca majalah diruang tengah apartemenku. Saat aku sedang melihat rubrik trend make up 2015, aku melihat layar hpku berkedip menandakan ada pesan masuk. Kuraih benda persegi panjang itu dan senyumpun langsung terukir diwajahku.

From : My Mate

“Malam, Fany-ah”

From : My Mate

“Sedang apa? I miss you, baby”

From : My Mate

Happy valentine

 

 To : My Mate

I miss you too, baby

To : My Mate

Call me please :(”

Dan Taeyeonku pun langsung menelpon..

Taeyeon : “ I miss youuu!!!”, teriak Taeyeon di Amerika sana.

Tiffany : “ Yaaahh!! Kim, pabo!! Jangan berteriak!!”, ucapku kesal. Ini serius..

Taeyeon : “Ssstt, jangan bawel! Aku sedang merindukan kekasihku”.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu. Kamipun bercerita panjang lebar mengenai kegiatan kami seharian ini. Ah rasanya menyebalkan memiliki kekasih yang berada ribuan kilometer disana. Aku tidak bisa melihat tingkah dorknya. Aku tidak bisa memeluk dan menciumnya secara langsung. But thanks God kami masih bisa berhubungan melalui pesan dan telepon, serta video call.

Salahnya sendiri kenapa dia baru mengutarakan perasaannya padaku saat ia akan terbang ke Amerika 2 minggu setelahnya. Salahnya juga ia baru memberitahuku bahwa ia hanya bisa menghubungiku “semampunya” yang ia bisa saat 1 minggu usia hubungan pacaran kami atau 1 minggu sebelum keberangkatannya.

Tapi sekalipun kami mengalami perbedaan waktu yang mencolok, Taeyeonku selalu menyempatkan waktunya setidaknya 15 menit saat aku bangun dan berangkat kerja, 30 menit saat ia memastikan aku makan siang, dan setidaknya 1 jam sampai 2 jam setengah ketika malam hari diwaktu Korea. Saat malam hari inilah kami selalu menghabiskan waktu panjang lebar untuk bercerita.

Sebenarnya aku takut menganggung waktu kerjanya. Menjadi satu-satunya pewaris kerjaan jaringan hotel yang berpusat di New York, Taeyeonku pasti sangat sibuk. Tapi ia selalu memintaku untuk tidak mengkhawatirkan perbedaan waktu kami.

Jangan khawatirkan waktuku. Aku ingin menikmati setiap waktu yang kita punya. Aku selalu merindukanmu, tapi aku tidak ingin mengganggu kerjamu. Jadi, jangan khawatirkan aku. Memangnya siapa yang berani memarahaiku?” itu katanya. Dasar bodoh. Waktu kerjamu, waktu santaimu, bahkan waktu tidurmu yang pasti terganggu.

Taeyeon : “Hei, ingat saat aku mengutarakan perasaanku padaku?”, tanya Taeyeon.

Flashback

31 Juli 2014

Normal POV

Taeyeon : “Saranghae, Fany-ah”, ucap Taeyeon to do point.

Tiffany : “Ne?”, Tanya Tiffany bingung dan terkejut.

Taeyeon : “Aku tahu ini gila. Aku tahu aku gila, tapi aku tidak bisa berbobong pada perasaanku sendiri kalau aku tergila-gila padamu, Tiffany. Aku benar-benar mencintaimu”

Tiffany : “Eoh.. Taeyeon.. Aku.. Waw.. Jujur aku masih belum mampu mencerna apa yang baru saja kamu bilang, Taeyeon”, ucap Tiffany masih dengan mimik muka terkejutnya.

Tiffany masih terkejut saat Taeyeon tiba-tiba menariknya dari lantai dansa saat ia sedang menikmati pesta kelulusan kampus mereka. Iapun masih bingung sangat Taeyeon membawanya ke salah satu puncak menara kampus mereka. Dan rasa terkejut dan bingung yang ia rasakan bertambah ratusan kali lipat saat Taeyeon mengatakan kalau ia mencintainya.

Melihat Tiffany yang masih terkejut, Taeyeon hanya bisa diam. Ia takut. Sangat takut jika keputusan dia untuk mengutarakan perasaan cintanya pada Tiffany akan berakibat fatal pada hubungan persahabatan mereka. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Dia harus mengutarakan perasaannya karena ia benar-benar mencintai sahabatnya itu.

Melihat Taeyeon yang mulai pucat, Tiffanypun memberanikan diri bertanya.

Tiffany : “Sejak kapan?”

Taeyeon : “Maksudnya?”

Tiffany : “Sejak kapan kau mencintaiku?”

Taeyeon terdiam beberapa saat.

Taeyeon : “Sejak kau menjadi ketua regu saat kita OSPEK dulu, Fany-ah. Ini gila. Ini benar-benar gila. Hari pertama kita OSPEK aku sangat terganggu karena kau sangat sangat cerewet saat menjadi kapten. Hari kedua, aku lebih memilih dihukum oleh senior daripada harus mendengar kamu marah-marah. Hari ketiga, aku mulai terbiasa dengan semua sikapmu yang aku tidak suka. Hari keempat, saat aku merasa penderitaanku berada dalam satu regu yang sama denganmu akan berakhir, entah cupid bodoh mana yang salah mengarahkan panah cintanya padaku.. Aku.. Aku tersenyum saat kau tersenyum. Aku bangga saat regu kita menjadi regu terbaik. Aku bangga kamu adalah kapten regu kami.”, ucap Taeyeon panjang lebar tanpa berani menatap mata Tiffany.

Tiffany hanya memasang muka datarnya.

Tiffany : “Lalu?”

Taeyeon : “Aku pikir perasaanku hanya sementara, Fany-ah. Tapi perasaan sayangku makin tumbuh setiap harinya. Aku bahkan sangat bahagia saat aku tahu ternyata kita satu fakultas, kita satu jurusan, bahkan satu kelas yang sama. Dan Tuhan benar-benar memberikanku surga dunia saat akhirnya kita berteman dekat. Bahkan selama 4 tahun ini kita bersahabat seperti keluarga, selama itu pula aku mencintaimu, Fany-ah. Selama itu pula aku memendam rasa cinta yang berhasil aku kamuflasekan sebagai sayang antar sahabat.”, ucap Taeyeon lirih.

Tiffany hanya diam. Dan hal itu berhasil membuat Taeyeon ketakutan setengah mati. Ia takut sahabat yang ia cinta itu marah padanya.

Taeyeon : “Maafkan aku, Tiffany. Maaf karena aku berkata hal yang tidak pantas.”

Tiffany masih diam. Taeyeon sudah mengalami fase takut setengah mati, iapun merasa akan benar-benar mati karena diamnya seorang Tiffany.

Taeyeon : “Lebih baik kita kembali ke ruang pesta”, ucap Taeyeon sambil memaksakan senyumnya.

Tiffany : “Kau bodoh, Taeyeon”

Taeyeon : “Maafkan aku, Tiffany”, Taeyeon benar-benar menyesali aksinya kali ini.

Tiffany : “Kau memendam perasaaanmu sendirian selama 4 tahun, Taeyeon-ah. Kau menyikiti dirimu sendiri selama itu, Taeyeon.”

Taeyeon hanya bisa tertunduk. Bulir-bulir air matanya usdah mulai berjatuhan.

Tiffany : “Bodohnya lagi kau juga membuatku menunggu selama 4 tahun lamanya.”

Taeyeon menatap Tiffany bingung.

Tiffany : “Aku mampu merasakannya, Taeyeon. Aku mampu merasakan bahwa kau sangat membenciku saat kita OSPEK. Aku mampu merasakan bahwa sikapmu mulai berubah menjadi lebih menyenangkan saat kita berada dikelas yang sama. Aku mampu merasakan setiap perhatian lebih yang kau berikan selama 4 tahun ini, Taeyeon-ah,” mata Tiffany mulai berkaca-kaca.

Kini giliran taeyeon yang memasang muka bingung dan terkejut. Melihat itu, Tiffany langsung memukul-mukul pelan badan Taeyeon sambil terisak.

Tiffany : “Kemana keberanianmu selama 4 tahun ini? Aku juga mencintaimu, Taeyeon. Apa kau buta dan tak pernah peka bahwa selama 4 tahun ini aku juga memberikan tanda bahwa aku memiliki rasa yang lebih untukmu, Taeyeon-ah.. Aku juga mencintaimu..”, isak Tiffany.

Teyeon terkejut. Sangat terkejut. Ternyata selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.

Tapi ia tidak ingin membuang waktunya untuk terus terkejut. Diraihnya kedua tangan Tiffany untuk ia genggaam. Ditatapnya Tiffany penuh cinta. Dipeluknya Tiffany lembut dan mesra. Dibelainya rambut hitam Tiffany dengan sayang.

Ia sangat bahagia. Tiffany sangan bahagia. Penantian panjang mereka tidak berakhir sia-sia.

*Back to 14 Februari 2015*

Normal POV

Taeyeon : “Jangan ragu akan cintaku, Fany-ah. Jangan ragukan kesetianku disini. Aku hidup untukmu, sayang. Aku mencintaimu dan jangan lupakan itu”

Tiffany : “Hey, aku juga mencintaimu, sayang. Kau juga harus percaya padaku.”

Taeyeon : “Selalu, sayang. Oh ya, aku harus kembali bekerja. Kau juga harus tidur”

Sebenarnya Tiffany tidak ingin obrolannya berakhir. Ia juga belum mengantuk. Tapi saat seperti ini, giliran ia yang harus mengerti keadaan Taeyeon.

Tiffany : “Siap, kapten!! Jaga kesehatanmu yah, sayang. Semangat!!”

Dan pembicaraan merekapun berakhir.

Our first valentineTuhan, aku sangat mencintainya – Tiffany”
Our first valentine. Ah Korea-Amerika. Berikan aku cukup waktu untuk terus mencintainya, Tuhan – Taeyeon”

Advertisements

13 thoughts on “NO REPLY (1/?)

  1. bukan hanya tiffany saja yg tersenyum akibat tingkah dorkynya taeyeon tapi saya juga selaku reader ikut tersenyum bahkan tertawa😄😂 keren thor Ceritanya❤👏
    tetap semangat yah thor💞

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s